Percaya itu ada 3 hal. Percaya pada diri sendiri, percaya pada Beliau, dan percaya pada Allah S.W.T. Percaya itu 'pasrah'. Pasrah pada Beliau, pasrah pada Allah S.W.T. Kenapa dalam percaya itu ada pasrah kepada Allah S.W.T? Karena Allah adalah Maha segalanya, tempat mencari keadilan apabila Beliau tidak mempergunakan kepercayaan kita dengan baik. Dan itu diluar kekuasaan kita. Tapi kepercayaan itu akan menjadi doa dan ibadah.
-Wise words from Prasetyo Nugroho-
Monday, September 15, 2008
Friday, August 1, 2008
Bosan
Ini sebuah cerita ringan tentang kebosanan. Seorang tua yang bijak ditanya oleh tamunya.
Tamu : “Sebenarnya apa itu perasaan ‘bosan’, pak tua?”
Pak Tua : “Bosan adalah keadaan dimana pikiran menginginkan perubahan, mendambakan sesuatu yang baru, dan menginginkan berhentinya rutinitas hidup dan keadaan yang monoton dari waktu ke waktu.”
Tamu : “Kenapa kita merasa bosan?”
Pak Tua : “Karena kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang kita miliki.”
Tamu : “Bagaimana menghilangkan kebosanan?”
Pak Tua : “Hanya ada satu cara, nikmatilah kebosanan itu, maka kita pun akan terbebas darinya.”
Tamu : “Bagaimana mungkin bisa menikmati kebosanan?”
Pak Tua: “Bertanyalah pada dirimu sendiri: mengapa kamu tidak pernah bosan makan nasi yang sama rasanya setiap hari?”
Tamu : “Karena kita makan nasi dengan lauk dan sayur yang berbeda, Pak Tua.”
Pak Tua : “Benar sekali, anakku, tambahkan sesuatu yang baru dalam rutinitasmu maka kebosanan pun akan hilang.”
Tamu: “Bagaimana menambahkan hal baru dalam rutinitas?”
Pak Tua : “Ubahlah caramu melakukan rutinitas itu. Kalau biasanya menulis sambil duduk, cobalah menulis sambil jongkok atau berbaring. Kalau biasanya membaca di kursi, cobalah membaca sambil berjalan-jalan atau meloncat-loncat. Kalau biasanya menelpon dengan tangan kanan, cobalah dengan tangan kiri atau dengan kaki kalau bisa. Dan seterusnya.” Lalu Tamu itu pun pergi.
Beberapa hari kemudian Tamu itu mengunjungi Pak Tua lagi.
Tamu : “Pak tua, saya sudah melakukan apa yang Anda sarankan, kenapa saya masih merasa bosan juga?”
Pak Tua : “Coba lakukan sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan.”
Tamu : “Contohnya?”
Pak Tua : “Mainkan permainan yang paling kamu senangi di waktu kecildulu.”
Lalu Tamu itu pun pergi.
Beberapa minggu kemudian, Tamu itu datang lagi ke rumah Pak Tua.
Tamu : “Pak tua, saya melakukan apa yang Anda sarankan. Di setiap waktu senggang saya bermain sepuas-puasnya semua permainan anak-anak yang saya senangi dulu. Dan keajaiban pun terjadi. Sampai sekarang saya tidak pernah merasa bosan lagi, meskipun di saat saya melakukan hal-hal yang dulu pernah saya anggap membosankan. Kenapa bisa demikian, Pak Tua?”
Sambil tersenyum Pak Tua berkata: “Karena segala sesuatu sebenarnya berasal dari pikiranmu sendiri, anakku. Kebosanan itu pun berasal dari pikiranmu yang berpikir tentang kebosanan.
Saya menyuruhmu bermain seperti anak kecil agar pikiranmu menjadi ceria. Sekarang kamu tidak merasa bosan lagi karena pikiranmu tentang keceriaan berhasil mengalahkan pikiranmu tentang kebosanan.
Segala sesuatu berasal dari pikiran.
Berpikir bosan menyebabkan kau bosan.
Berpikir ceria menjadikan kamu ceria.
Tamu : “Sebenarnya apa itu perasaan ‘bosan’, pak tua?”
Pak Tua : “Bosan adalah keadaan dimana pikiran menginginkan perubahan, mendambakan sesuatu yang baru, dan menginginkan berhentinya rutinitas hidup dan keadaan yang monoton dari waktu ke waktu.”
Tamu : “Kenapa kita merasa bosan?”
Pak Tua : “Karena kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang kita miliki.”
Tamu : “Bagaimana menghilangkan kebosanan?”
Pak Tua : “Hanya ada satu cara, nikmatilah kebosanan itu, maka kita pun akan terbebas darinya.”
Tamu : “Bagaimana mungkin bisa menikmati kebosanan?”
Pak Tua: “Bertanyalah pada dirimu sendiri: mengapa kamu tidak pernah bosan makan nasi yang sama rasanya setiap hari?”
Tamu : “Karena kita makan nasi dengan lauk dan sayur yang berbeda, Pak Tua.”
Pak Tua : “Benar sekali, anakku, tambahkan sesuatu yang baru dalam rutinitasmu maka kebosanan pun akan hilang.”
Tamu: “Bagaimana menambahkan hal baru dalam rutinitas?”
Pak Tua : “Ubahlah caramu melakukan rutinitas itu. Kalau biasanya menulis sambil duduk, cobalah menulis sambil jongkok atau berbaring. Kalau biasanya membaca di kursi, cobalah membaca sambil berjalan-jalan atau meloncat-loncat. Kalau biasanya menelpon dengan tangan kanan, cobalah dengan tangan kiri atau dengan kaki kalau bisa. Dan seterusnya.” Lalu Tamu itu pun pergi.
Beberapa hari kemudian Tamu itu mengunjungi Pak Tua lagi.
Tamu : “Pak tua, saya sudah melakukan apa yang Anda sarankan, kenapa saya masih merasa bosan juga?”
Pak Tua : “Coba lakukan sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan.”
Tamu : “Contohnya?”
Pak Tua : “Mainkan permainan yang paling kamu senangi di waktu kecildulu.”
Lalu Tamu itu pun pergi.
Beberapa minggu kemudian, Tamu itu datang lagi ke rumah Pak Tua.
Tamu : “Pak tua, saya melakukan apa yang Anda sarankan. Di setiap waktu senggang saya bermain sepuas-puasnya semua permainan anak-anak yang saya senangi dulu. Dan keajaiban pun terjadi. Sampai sekarang saya tidak pernah merasa bosan lagi, meskipun di saat saya melakukan hal-hal yang dulu pernah saya anggap membosankan. Kenapa bisa demikian, Pak Tua?”
Sambil tersenyum Pak Tua berkata: “Karena segala sesuatu sebenarnya berasal dari pikiranmu sendiri, anakku. Kebosanan itu pun berasal dari pikiranmu yang berpikir tentang kebosanan.
Saya menyuruhmu bermain seperti anak kecil agar pikiranmu menjadi ceria. Sekarang kamu tidak merasa bosan lagi karena pikiranmu tentang keceriaan berhasil mengalahkan pikiranmu tentang kebosanan.
Segala sesuatu berasal dari pikiran.
Berpikir bosan menyebabkan kau bosan.
Berpikir ceria menjadikan kamu ceria.
Wednesday, July 2, 2008
Sebuah Perenungan Diri
Bahagia (?)
Kata Kahlil Gibran, bahagia itu adalah duka cita yang terbuka kedoknya.
Kata Para Sahabat Nabi, bahagia itu adalah kehidupan yang sederhana, yang tidak banyak menyibukkan dan penghasilan yang pas-pasan.
Tapi,
Kata Seorang Teman Baikku, bahagia itu sebetulnya tidak ada, yang ada hanya bersyukur.
Hmmmh (?)
Kata Kahlil Gibran, bahagia itu adalah duka cita yang terbuka kedoknya.
Kata Para Sahabat Nabi, bahagia itu adalah kehidupan yang sederhana, yang tidak banyak menyibukkan dan penghasilan yang pas-pasan.
Tapi,
Kata Seorang Teman Baikku, bahagia itu sebetulnya tidak ada, yang ada hanya bersyukur.
Hmmmh (?)
Sunday, January 27, 2008
My new Role
Mulai 1 Februari mendatang aku dah ga kerja kantoran lagiii....sampe Juni, trus aku ikut Mas ke Riau.
Hmmh... prinsipku, jangan sampe dengan keberadaanku di rumah aku jadi ngerepotin orang lain (maklum, waktu untuk berpikir jadi lebih banyak, jadi lebih cerewet gara-gara kurang kerjaan).
So, ada beberapa rencana yang ingin aku kerjain di waktu itu...
1. Ngurusin acara 7 Juni dan segala pernak-perniknya. Belum dapet Gedung yang sesuai, belum dapet catering, perias insya Allah dah dapet. Dan ngurusin hal-hal kecil lainnya (souvenir, undangan, dll).
2. Ngurusin rumah. Kamarku dah beberapa tahun ga diurus dengan intensif. Buku-buku dik Ayu dah ga karuan, meja belajar penuh. Lemari pakaian dah tidak tertata dengan baik (baca: awut-awutan). Kamar mandi walaupun dibersihin ama si yuk tapi tetep nggak sama bersihnya kalo aku yang nyikat! Dapur Ibu perlu di organize ulang.
3. Buat portfolio. lihat buku contoh2 portfolio dulu aja, ntar baru intensif buatnya.
4. Ngajarin dik ayu persiapan untuk masuk perguruan tinggi.
6. Belajar masak apa aja deh, kalo perlu tiap pagi di rumah aku yang masak.
7. Perbanyak shalat sunnah (dhuha, hajat, tahajjud, tasbih)
8. Puasa! Berdoa semoga dilancarkan segala urusan.
9. Banyak baca buku!
10. Body treatment!
11. Last but not least! Get a part time job!
Hoahhh.... kok banyak juga ya peranannya walaupun dah ga kerja....
Wekekekkeke
Hmmh... prinsipku, jangan sampe dengan keberadaanku di rumah aku jadi ngerepotin orang lain (maklum, waktu untuk berpikir jadi lebih banyak, jadi lebih cerewet gara-gara kurang kerjaan).
So, ada beberapa rencana yang ingin aku kerjain di waktu itu...
1. Ngurusin acara 7 Juni dan segala pernak-perniknya. Belum dapet Gedung yang sesuai, belum dapet catering, perias insya Allah dah dapet. Dan ngurusin hal-hal kecil lainnya (souvenir, undangan, dll).
2. Ngurusin rumah. Kamarku dah beberapa tahun ga diurus dengan intensif. Buku-buku dik Ayu dah ga karuan, meja belajar penuh. Lemari pakaian dah tidak tertata dengan baik (baca: awut-awutan). Kamar mandi walaupun dibersihin ama si yuk tapi tetep nggak sama bersihnya kalo aku yang nyikat! Dapur Ibu perlu di organize ulang.
3. Buat portfolio. lihat buku contoh2 portfolio dulu aja, ntar baru intensif buatnya.
4. Ngajarin dik ayu persiapan untuk masuk perguruan tinggi.
6. Belajar masak apa aja deh, kalo perlu tiap pagi di rumah aku yang masak.
7. Perbanyak shalat sunnah (dhuha, hajat, tahajjud, tasbih)
8. Puasa! Berdoa semoga dilancarkan segala urusan.
9. Banyak baca buku!
10. Body treatment!
11. Last but not least! Get a part time job!
Hoahhh.... kok banyak juga ya peranannya walaupun dah ga kerja....
Wekekekkeke
Tuesday, January 22, 2008
Rasa berharga yang diperoleh dari pemahaman pribadi sebagai makhluk yang berharga dan berarti.
Poin yang satu ini bukanlah poin kesalahan. Malah sebenarnya, rasa berharga harus lahir dari pemahaman diri sendiri bahwa sebagai manusia, kita adalah pribadi yang berharga dan berarti.
Enam point diatas berisi cara membangun harga diri melalui hal-hal diluar dirinya atau bergantung pada sesuatu yang tidak stabil. Seringkali ke 6 point diatas telah menjadi paradigma manusia didalam membangun rasa berharga. Oleh karena itu paradigma yang salah itu harus dibuang dan diganti dengan yang baru.
Karena, rasa berharga seperti itu mudah sekali untuk ‘luntur' dan terlalu berbahaya bila diikuti. Kita harus menanamkan di pikiran kita bahwa sebagai manusia, saya adalah pribadi yang berharga yang Tuhan sudah ciptakan. Rasa berharga harus lahir dari kesadaran diri sendiri bahwa kita memang berharga dan berarti. Kita harus bangga dengan diri kita sendiri, karena tidak ada manusia yang sama persis seperti diri kita. Artinya setiap manusia adalah pribadi yang unik dan tidak ada dua-nya di dunia. Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan.
Bila kita hanya berfokus pada kekurangan, maka kita akan menjadi orang yang rendah diri atau memiliki kepercayaan diri yang rendah (lower confident). Sebaliknya, bila kita berfokus hanya pada kelebihan kita, maka kita akan menjadi orang yang terlalu percaya diri (over confident) atau menjadi tidak tahu diri.
Orang yang percaya diri adalah orang yang tahu kelebihan dan kekurangannya. Ia sadar bahwa semua orang berharga, orang yang pandai memiliki kelemahan dan orang yang bodoh memiliki kelebihan. Ketika, anda mampu menghargai orang lain maupun diri sendiri, maka anda akan memiliki harga diri yang sejati. Dengan demikian, anda menghargai Tuhan yang sudah menciptakan manusia dengan segala keadaannya dan keunikannya.
JADI APA YANG HARUS DILAKUKAN UNTUK MEMILIKI PERCAYA DIRI YANG SEJATI?
Pertama, buanglah pikiran yang mengatakan bahwa anda tidak berharga.
Contoh sederhana; semirip apapun wajah manusia tetapi tetap sidik jarinya berbeda, sekalipun dia kembar cermin, seperti pinang dibelah dua. Kalau mau diilustrasikan, maka manusia itu seperti potongan puzzle. Sebagus apapun gambar kumpulan puzzle itu tidak akan pernah lengkap, bila ada satu potongan puzzle yang hilang. Gambar itupun akan menjadi tidak sempurna dan kurang indah bila dipandang. Orang akan selalu tanya, dimana potongan puzzle yang tidak ada itu? Seperti itulah arti setiap pribadi manusia; saling membutuhkan dan saling ketergantungan satu sama lain, seperti puzzle.
Hal ini tidak bisa dipungkiri, secara Psikologi, dijelaskan manusia adalah mahkluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri dan membutuhkan sesamanya. Dengan demikian setiap manusia apapun keadaan dan keberadaannya, dibutuhkan dan membutuhkan sesamanya. Jika, demikian apakah anda masih berpikir diri anda tidak berharga?
Kedua, kalau anda bisa menghargai diri sendiri itu artinya anda bisa menghargai ‘Pribadi ‘yang menciptakan anda.
Percayalah bahwa anda berharga dan berarti sehingga anda bisa tampil penuh percaya diri. Sekalipun anda gendut, pendek, jelek, hitam, cacat, miskin, bodoh, dsb, ingatlah anda adalah pribadi yang berharga yang Tuhan sudah ciptakan. Kalau anda melihat suatu lukisan dan mengatakan, " lukisan ini bagus ya..." itu berarti anda sedang memuji pelukisnya. Sebab, ia yang membuat lukisan itu, bukan? Jadi, kalau anda berkata bahwa diri anda jelek, sesungguhnya, siapa yg anda hina? Tuhan Yang Maha Kuasa. Sebaliknya, bila anda berkata bahwa diri anda bagus, artinya anda sedang memuji Tuhan yang menciptakan anda.
Dalam hal ini saya bukan ingin memaksa anda atau memanipulasi diri anda. Kalau jelek memang tidak bisa kita bilang bagus. Tetapi, kalau anda setuju bahwa yang di sebut Tuhan itu adalah oknum yang Mahabaik dan Mahakuasa. Apakah kalau ia menjadikan kita jelek atau ‘kurang' itu berarti Tuhan itu tidak baik? Atau Kurang baik? Atau jahat? Bukankah seharusnya kita berpikir, apa rencana Tuhan melalui ‘kekuranganku' ini? bukankah Tuhan itu Maha kuasa, jadi sekalipun kita ‘kurang', Tuhan tidak akan lupa memberikan ‘kelebihan' pada kita. Bukankah Tuhan bisa merubahnya atau mengisi ‘kekurangan' itu.
Terpenting adalah bagaimana anda bisa menerima kondisi ataupun keadaan anda tersebut. Kemudian, tidak terfokus hanya pada ‘kekurangan' anda saja. Tetapi, memandang diri anda secara komperhensif dan memiliki paradigma bahwa Tuhan itu Mahakuasa, Ia tahu yang terbaik untuk diriku.
Ingatlah, anda juga mempunyai ‘kelebihan' yang Tuhan berikan selain ‘kekurangan' didalam diri anda.
Ketiga, anda harus juga menghargai orang lain, karena orang lain sama berharganya seperti anda.
Seperti, bila kita selalu mampu untuk menghargai orang lain, maka orang lainpun pasti akan menghargai kita. Ini sudah menjadi hukum tak tertulis yang bersifat universal. Artinya dimana saja, apakah itu di benua Eropa, di Amerika, di Asia, di Australia, di Afrika, bahkan di Antartika sekalipun (kalau ada komunitas manusia) hal ini dapat berlaku. Bukan itu saja, agama apa saja, apakah agama Kristen, Islam, Hindu, Budha, bahkan orang yang tidak beragama sekalipun, jika mempraktekannya pasti akan berhasil. Artinya, bila anda mampu melihat orang lain sama berharganya dengan anda melihat diri sendiri.
Maka, anda akan mendapat harga yang sama seperti yang anda berikan pada orang tersebut. Dengan demikian, anda sudah memiliki tambahan rasa berharga sekalipun anda tidak bergantung pada penghargaan orang lain. Hasilnya anda akan ‘tampil' dengan penuh percaya diri karena anda dihargai bukan hanya oleh diri anda sendiri tetapi juga oleh orang lain.
Keempat, jangan berfokus pada kelemahan atau kekurangan (merasa tidak berharga). Ubahlah kelemahan itu menjadi kekuatan anda untuk sukses.
Ingatlah, apapun keadaan kita dan keberadaan kita; mungkin secara phisik kita jelek bahkan cacat. Ini tidak berarti bahwa kita adalah manusia tidak berguna sehingga tidak berharga sama sekali. Saya beri contoh; Bethoven dia adalah seorang komposer ternama pada zamannya yang sampai saat ini karya-karyanya (musik klasik) masih digemari oleh banyak orang didunia. Tetapi tahukan anda, bahwa Bethoven yang hebat itu adalah seorang yang tuli.
Secara logika, untuk belajar musik atau menciptakan karya musik dibutuhkan panca indra pendengaran. Bethoven tidak memiliki itu, ia tuli, ia cacat, tetapi apakah ia tidak berharga, apakah ia tidak berguna? Bethoven telah berhasil mengalahkan kelemahannya dan mengubah kelemahan tersebut menjadi kekuatannya. Bila Bethoven bisa maka andapun pasti bisa.
Jadi mulailah, mengubah kekurangan atau kelemahan anda agar menjadi kekuatan anda untuk sukses. Majulah dengan kepercayaan diri penuh karena anda sungguh-sungguh berharga.
Enam point diatas berisi cara membangun harga diri melalui hal-hal diluar dirinya atau bergantung pada sesuatu yang tidak stabil. Seringkali ke 6 point diatas telah menjadi paradigma manusia didalam membangun rasa berharga. Oleh karena itu paradigma yang salah itu harus dibuang dan diganti dengan yang baru.
Karena, rasa berharga seperti itu mudah sekali untuk ‘luntur' dan terlalu berbahaya bila diikuti. Kita harus menanamkan di pikiran kita bahwa sebagai manusia, saya adalah pribadi yang berharga yang Tuhan sudah ciptakan. Rasa berharga harus lahir dari kesadaran diri sendiri bahwa kita memang berharga dan berarti. Kita harus bangga dengan diri kita sendiri, karena tidak ada manusia yang sama persis seperti diri kita. Artinya setiap manusia adalah pribadi yang unik dan tidak ada dua-nya di dunia. Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan.
Bila kita hanya berfokus pada kekurangan, maka kita akan menjadi orang yang rendah diri atau memiliki kepercayaan diri yang rendah (lower confident). Sebaliknya, bila kita berfokus hanya pada kelebihan kita, maka kita akan menjadi orang yang terlalu percaya diri (over confident) atau menjadi tidak tahu diri.
Orang yang percaya diri adalah orang yang tahu kelebihan dan kekurangannya. Ia sadar bahwa semua orang berharga, orang yang pandai memiliki kelemahan dan orang yang bodoh memiliki kelebihan. Ketika, anda mampu menghargai orang lain maupun diri sendiri, maka anda akan memiliki harga diri yang sejati. Dengan demikian, anda menghargai Tuhan yang sudah menciptakan manusia dengan segala keadaannya dan keunikannya.
JADI APA YANG HARUS DILAKUKAN UNTUK MEMILIKI PERCAYA DIRI YANG SEJATI?
Pertama, buanglah pikiran yang mengatakan bahwa anda tidak berharga.
Contoh sederhana; semirip apapun wajah manusia tetapi tetap sidik jarinya berbeda, sekalipun dia kembar cermin, seperti pinang dibelah dua. Kalau mau diilustrasikan, maka manusia itu seperti potongan puzzle. Sebagus apapun gambar kumpulan puzzle itu tidak akan pernah lengkap, bila ada satu potongan puzzle yang hilang. Gambar itupun akan menjadi tidak sempurna dan kurang indah bila dipandang. Orang akan selalu tanya, dimana potongan puzzle yang tidak ada itu? Seperti itulah arti setiap pribadi manusia; saling membutuhkan dan saling ketergantungan satu sama lain, seperti puzzle.
Hal ini tidak bisa dipungkiri, secara Psikologi, dijelaskan manusia adalah mahkluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri dan membutuhkan sesamanya. Dengan demikian setiap manusia apapun keadaan dan keberadaannya, dibutuhkan dan membutuhkan sesamanya. Jika, demikian apakah anda masih berpikir diri anda tidak berharga?
Kedua, kalau anda bisa menghargai diri sendiri itu artinya anda bisa menghargai ‘Pribadi ‘yang menciptakan anda.
Percayalah bahwa anda berharga dan berarti sehingga anda bisa tampil penuh percaya diri. Sekalipun anda gendut, pendek, jelek, hitam, cacat, miskin, bodoh, dsb, ingatlah anda adalah pribadi yang berharga yang Tuhan sudah ciptakan. Kalau anda melihat suatu lukisan dan mengatakan, " lukisan ini bagus ya..." itu berarti anda sedang memuji pelukisnya. Sebab, ia yang membuat lukisan itu, bukan? Jadi, kalau anda berkata bahwa diri anda jelek, sesungguhnya, siapa yg anda hina? Tuhan Yang Maha Kuasa. Sebaliknya, bila anda berkata bahwa diri anda bagus, artinya anda sedang memuji Tuhan yang menciptakan anda.
Dalam hal ini saya bukan ingin memaksa anda atau memanipulasi diri anda. Kalau jelek memang tidak bisa kita bilang bagus. Tetapi, kalau anda setuju bahwa yang di sebut Tuhan itu adalah oknum yang Mahabaik dan Mahakuasa. Apakah kalau ia menjadikan kita jelek atau ‘kurang' itu berarti Tuhan itu tidak baik? Atau Kurang baik? Atau jahat? Bukankah seharusnya kita berpikir, apa rencana Tuhan melalui ‘kekuranganku' ini? bukankah Tuhan itu Maha kuasa, jadi sekalipun kita ‘kurang', Tuhan tidak akan lupa memberikan ‘kelebihan' pada kita. Bukankah Tuhan bisa merubahnya atau mengisi ‘kekurangan' itu.
Terpenting adalah bagaimana anda bisa menerima kondisi ataupun keadaan anda tersebut. Kemudian, tidak terfokus hanya pada ‘kekurangan' anda saja. Tetapi, memandang diri anda secara komperhensif dan memiliki paradigma bahwa Tuhan itu Mahakuasa, Ia tahu yang terbaik untuk diriku.
Ingatlah, anda juga mempunyai ‘kelebihan' yang Tuhan berikan selain ‘kekurangan' didalam diri anda.
Ketiga, anda harus juga menghargai orang lain, karena orang lain sama berharganya seperti anda.
Seperti, bila kita selalu mampu untuk menghargai orang lain, maka orang lainpun pasti akan menghargai kita. Ini sudah menjadi hukum tak tertulis yang bersifat universal. Artinya dimana saja, apakah itu di benua Eropa, di Amerika, di Asia, di Australia, di Afrika, bahkan di Antartika sekalipun (kalau ada komunitas manusia) hal ini dapat berlaku. Bukan itu saja, agama apa saja, apakah agama Kristen, Islam, Hindu, Budha, bahkan orang yang tidak beragama sekalipun, jika mempraktekannya pasti akan berhasil. Artinya, bila anda mampu melihat orang lain sama berharganya dengan anda melihat diri sendiri.
Maka, anda akan mendapat harga yang sama seperti yang anda berikan pada orang tersebut. Dengan demikian, anda sudah memiliki tambahan rasa berharga sekalipun anda tidak bergantung pada penghargaan orang lain. Hasilnya anda akan ‘tampil' dengan penuh percaya diri karena anda dihargai bukan hanya oleh diri anda sendiri tetapi juga oleh orang lain.
Keempat, jangan berfokus pada kelemahan atau kekurangan (merasa tidak berharga). Ubahlah kelemahan itu menjadi kekuatan anda untuk sukses.
Ingatlah, apapun keadaan kita dan keberadaan kita; mungkin secara phisik kita jelek bahkan cacat. Ini tidak berarti bahwa kita adalah manusia tidak berguna sehingga tidak berharga sama sekali. Saya beri contoh; Bethoven dia adalah seorang komposer ternama pada zamannya yang sampai saat ini karya-karyanya (musik klasik) masih digemari oleh banyak orang didunia. Tetapi tahukan anda, bahwa Bethoven yang hebat itu adalah seorang yang tuli.
Secara logika, untuk belajar musik atau menciptakan karya musik dibutuhkan panca indra pendengaran. Bethoven tidak memiliki itu, ia tuli, ia cacat, tetapi apakah ia tidak berharga, apakah ia tidak berguna? Bethoven telah berhasil mengalahkan kelemahannya dan mengubah kelemahan tersebut menjadi kekuatannya. Bila Bethoven bisa maka andapun pasti bisa.
Jadi mulailah, mengubah kekurangan atau kelemahan anda agar menjadi kekuatan anda untuk sukses. Majulah dengan kepercayaan diri penuh karena anda sungguh-sungguh berharga.
Monday, January 21, 2008
Hari ini milik Anda
Aku hanya akan hidup hari ini, maka aku akan mengucapkan,
"Wahai masa lalu yang telah berlalu dan selesai, tenggelamlah seperti mataharimu. Aku tak akan pernah menangisi kepergianmu, dan kamu tidak akan pernah melihatku termenung sedetik pun untuk mengingatmu. Kamu telah meninggalkan kami semua, pergi dan tak pernah kembali lagi."
"Wahai masa depan, engkau masih dalam kegaiban. Maka, aku tidak akan pernah bermain dengan khayalan dan menjual diri hanya untuk sebuah dugaan. Aku pun tak bakal memburu sesuatu yang belum tentu ada, karena esok hari mungkin tak ada sesuatu. Esok hari adalah sesuatu yang belum diciptakan dan tidak ada satu pun darinya yang dapat disebutkan."
(Taken from La Tahzan)
"Wahai masa lalu yang telah berlalu dan selesai, tenggelamlah seperti mataharimu. Aku tak akan pernah menangisi kepergianmu, dan kamu tidak akan pernah melihatku termenung sedetik pun untuk mengingatmu. Kamu telah meninggalkan kami semua, pergi dan tak pernah kembali lagi."
"Wahai masa depan, engkau masih dalam kegaiban. Maka, aku tidak akan pernah bermain dengan khayalan dan menjual diri hanya untuk sebuah dugaan. Aku pun tak bakal memburu sesuatu yang belum tentu ada, karena esok hari mungkin tak ada sesuatu. Esok hari adalah sesuatu yang belum diciptakan dan tidak ada satu pun darinya yang dapat disebutkan."
(Taken from La Tahzan)
Thursday, January 17, 2008
When I get bored of living my life.
I pretend...
As if I'm gonna die in 5 minutes.
Then I started to imagine,
Who can I depend on?
a n d
What would I do?
... as if it's for real.
Usually the answer is.... GOD
and I'd do my best for... GOD, in my limited 5 minutes of time.
And so.. I live my life, minute by minute, and I'll be damned if I'm not grateful.
Just Remember this song...
Bila Waktu Tlah Berakhir - Opick
bagaimana kau merasa bangga
akan dunia yg sementara
bagaimanakah bila semua hilang dan pergi
meninggalkan dirimu
bagaimanakah bila saatnya
waktu terhenti tak kau sadari
masikah ada jalan bagimu untuk kembali
mengulangkan masa lalu
dunia dipenuhi dengan hiasan
semua dan segala yg ada akan
kembali padaNya
bila waktu tlah memanggil
teman sejati hanyalah amal
bila waktu telah terhenti
teman sejati tingallah sepi
As if I'm gonna die in 5 minutes.
Then I started to imagine,
Who can I depend on?
a n d
What would I do?
... as if it's for real.
Usually the answer is.... GOD
and I'd do my best for... GOD, in my limited 5 minutes of time.
And so.. I live my life, minute by minute, and I'll be damned if I'm not grateful.
Just Remember this song...
Bila Waktu Tlah Berakhir - Opick
bagaimana kau merasa bangga
akan dunia yg sementara
bagaimanakah bila semua hilang dan pergi
meninggalkan dirimu
bagaimanakah bila saatnya
waktu terhenti tak kau sadari
masikah ada jalan bagimu untuk kembali
mengulangkan masa lalu
dunia dipenuhi dengan hiasan
semua dan segala yg ada akan
kembali padaNya
bila waktu tlah memanggil
teman sejati hanyalah amal
bila waktu telah terhenti
teman sejati tingallah sepi
Tuesday, January 8, 2008
Sukses tanpa mengejar kesempurnaan
Oleh karena fitrah manusia adalah "ciptaan sempurna". Anda tidak perlu berusaha meraih kesempurnaan. oleh karena tidak ada ukuran kesempurnaan yang berlaku universal. Sempurna buat Anda belum tentu untuk orang lain dan sebaliknya. Hanya Tuhan yang tahu tentang kesempurnaan itu.
Lakukan saja yang terbaik yang bisa Anda lakukan dan ikhlaskan hasilnya pada Tuhan. Biarkanlah sejarah yang mencatat hasil pekerjaan Anda. Sejarah selalu membantu, menyempurnakan dan memaafkan orang-orang yang ikhlas dalam bekerja. Syukuri dan nikmati sepenuhnya hidup Anda. Semua kejadian sudah sempurna seperti apa adanya.
Lakukan saja yang terbaik yang bisa Anda lakukan dan ikhlaskan hasilnya pada Tuhan. Biarkanlah sejarah yang mencatat hasil pekerjaan Anda. Sejarah selalu membantu, menyempurnakan dan memaafkan orang-orang yang ikhlas dalam bekerja. Syukuri dan nikmati sepenuhnya hidup Anda. Semua kejadian sudah sempurna seperti apa adanya.
Memegang jari seimbangkan emosi
Salah satu teknik unik yang dilakukan untuk menyeimbangkan kondisi emosi yaitu memegang jari-jari tangan.
Namun, mula-mula harus diakui lebih dulu bahwa kita memiliki masalah emosi yang melahirkan trauma dan masalah ini harus diselesaikan.
Teknik yang diimport dari Jepang ini (Teknik Jin Shin Jyutsu) sebenarnya sering kita lakukan tanpa sengaja. Misalnya ketika sedang cemas atau khawatir tanpa sadar kita memegang salah satu jari untuk menetralisasi gejolak emosi yang dirasakan.
Teorinya melalui jari mengalir energi yang berhubungan dengan emosi yang berbeda-beda. Panas dari tangan yang menggenggam menyebabkan energi yang tersumbat dalam tubuh keluar melalui jari-jari. Lakukan teknik ini selama beberapa menit.
Dari Ibu Jari mengalir keluar rasa sakit hati, sedih, murung dan duka. Rasa takut dan teror keluar dari Jari Telunjuk. Rasa marah, murka dan benci meluncur dari Jari Tengah. Rasa cemas dan khawatir lenyap melalui Jari Manis. Sedangkan rasa tidak percaya diri atau merasa jadi korban menghilang lewat Jari Kelingking.
Setelah memegang jari selama 1-2 menit, akan mulai terasa jari berdenyut, lalu muncullah suatu sensasi dari jari itu. Denyut itu menunjukan energi sedang mengalir keluar dari tubuh. Sekitar 2-5 menit kemudian, energi yang tersumbat mengalir keluar sehingga aliran energi didalam tubuh jadi lancar.
Teknik ini dapat dilakukan oleh siapa pun, dimanapun kapan pun dan dalam posisi apa pun. Latihan ini baik pula dilakukan sebelum tidur dimalam hari, untuk melepaskan diri dari emosi-emosi negatif yang tertumpuk dibawah sadar sepanjang hari.
Dengan memegang jari untuk mengeluarkan energi yang tersumbat, emosi jadi terpusat. Kita pun mampu berpikir lebih jernih ketika hendak mengambil keputusan.
Silakan Anda coba deh ? ? ?
(Kompas)
Namun, mula-mula harus diakui lebih dulu bahwa kita memiliki masalah emosi yang melahirkan trauma dan masalah ini harus diselesaikan.
Teknik yang diimport dari Jepang ini (Teknik Jin Shin Jyutsu) sebenarnya sering kita lakukan tanpa sengaja. Misalnya ketika sedang cemas atau khawatir tanpa sadar kita memegang salah satu jari untuk menetralisasi gejolak emosi yang dirasakan.
Teorinya melalui jari mengalir energi yang berhubungan dengan emosi yang berbeda-beda. Panas dari tangan yang menggenggam menyebabkan energi yang tersumbat dalam tubuh keluar melalui jari-jari. Lakukan teknik ini selama beberapa menit.
Dari Ibu Jari mengalir keluar rasa sakit hati, sedih, murung dan duka. Rasa takut dan teror keluar dari Jari Telunjuk. Rasa marah, murka dan benci meluncur dari Jari Tengah. Rasa cemas dan khawatir lenyap melalui Jari Manis. Sedangkan rasa tidak percaya diri atau merasa jadi korban menghilang lewat Jari Kelingking.
Setelah memegang jari selama 1-2 menit, akan mulai terasa jari berdenyut, lalu muncullah suatu sensasi dari jari itu. Denyut itu menunjukan energi sedang mengalir keluar dari tubuh. Sekitar 2-5 menit kemudian, energi yang tersumbat mengalir keluar sehingga aliran energi didalam tubuh jadi lancar.
Teknik ini dapat dilakukan oleh siapa pun, dimanapun kapan pun dan dalam posisi apa pun. Latihan ini baik pula dilakukan sebelum tidur dimalam hari, untuk melepaskan diri dari emosi-emosi negatif yang tertumpuk dibawah sadar sepanjang hari.
Dengan memegang jari untuk mengeluarkan energi yang tersumbat, emosi jadi terpusat. Kita pun mampu berpikir lebih jernih ketika hendak mengambil keputusan.
Silakan Anda coba deh ? ? ?
(Kompas)
Sunday, January 6, 2008
Nice topic, About Marriage
Cinta Itu (Perlu) Buta
Mau pernikahan awet, harmonis, dan berakhir ketika "maut memisahkan"? Kuncinya cuma satu: lupakan dan maafkan semua kekurangan pasangan.
Beberapa minggu terakhir ini berita selebriti yang sedang hangat dalam skala nasional adalah kasus perceraian pasangan Reza-Adjie dan HughesAvin. Untuk skala lokal, berita hangatnya adalah pasangan Rima-Oki. Anda mungkin sekali tak mengenal nama pasangan yang terakhir saya sebut, karena keduanya hanyalah teman dekat saya, bukan pasangan pesohor. Nama mereka (yang disamarkan untuk menghindari "amukan" mereka) saya sejajarkan dengan kedua pasangan selebriti beken bukan karena kesamaan kasusnya, tetapi karena saya lebih mengenal mereka dan masalah yang menyebabkan perceraian mereka secara langsung. Sedangkan penyebab perceraian Hughes-Avin dan AdjieReza hanya saya ketahui dari tayangan dan berita infotainment.
Oke, sekarang kita masuk ke inti masalahnya. Hughes dan Reza - konon - menuntut cerai karena tak tahan dengan perlakuan suaminya. Sementara Rima, saya tahu persis, minta cerai juga dengan alasan yang persis sama. Bedanya, saya bisa bertanya langsung kepadanya mengenai apa persisnya perlakuan suaminya yang membuat ia tak tahan. Jawabannya? "Banyak," katanya. Lalu, tumpahan kekesalannya kepada sang suami tumpah dari mulutnya bagai air bah. Bahkan selama saya mendengarkan keluh kesahnya, hal yang terpikir adalah: jika memang begitu banyak kekurangan Oki, kenapa mereka sampai bisa menikah, bertahan selama hampir tujuh tahun, "menghasilkan" dua orang putri yang cantik, lalu bubar. Alasannya, sekali lagi, karena pada akhirnya Rima, teman saya itu, sadar bahwa ia tak tahan menghadapi perlakuan Oki. Setelah tujuh tahun!
Pentingnya Memelihara Perkawinan Dengan berbagai dalih dan alasan, perceraian memang sudah menjadi hal yang jamak. Di Amerika, misalnya, dua dari tiga pernikahan berakhir dengan perceraian. Di Indonesia, angkanya memang "hanya" sekitar satu dari lima pernikahan yang berakhir dengan perceraian. Tetapi, kalau melihat kecenderungan angka perceraian yang meningkat drastis, masalah perceraian ini tak dapat dianggap sepele. Semakin lama, tampaknya orang makin mudah memutuskan untuk bercerai karena menganggap pernikahannya bermasalah. Padahal, perceraian itu sendiri sebenarnya juga menimbulkan masalah baru.
Gangguan psikologis anak-anak korban perceraian orangtua, misalnya, hanyalah satu dari sederet masalah sosial yang timbul akibat perceraian.Iris Krasnow, penulis buku Surrendering to Marriage adalah satu dari sedikit orang Amerika Serikat saat ini yang mengambil sikap menentang perceraian. Bukunya bahkan dianggap kontroversial oleh banyak orang sebangsanya, karena menggambarkan sikap yang amat bertentangan dengan "semangat" kebanyakan orang Amerika. Krasnow mengajak para rekannya untuk mempertahankan pernikahan. Secara ekstrem Krasnow mengajak para pasangan menikah untuk "menyerah" dalam ikatan perkawinan, apa pun dan sebesar apa pun masalah yang mereka hadapi.
"Perceraian bisa jadi sama buruknya dengan mempertahankan pernikahan yang bermasalah. Bahkan, bisa lebih buruk lagi," kata Krasnow. Mungkin, Anda yang sedang atau pernah menghadapi masalah sangat besar dalam pernikahan, tidak akan percaya kata-kata Krasnow. Tetapi, hal tersebut amat mungkin. Soalnya, menurut dia, setiap peroikahan pasti memiliki masalah. "Berapa kali pun Anda menikah, dengan siapa pun Anda menikah, pasti akan ada masalah yang menghadang," begitu katanya. Karena itu, lebih baik menghadapi masalah yang Anda miliki sekarang, daripada menghadapi masalah lain yang mungkin lebih besar dan tidak Anda ketahui bentuknya.
Menerima Pasangan Apa Adanya Inilah yang dimaksudkan dengan membutakan diri terhadap kekurangan pasangan. "Salah satu kunci sukses menjaga keawetan dan keharmonisan pernikahan adalah dengan 'membutakan' diri Anda terhadap berbagai kekurangan pasangan," kata Rhona Raskin, terapis keluarga dari Amerika Serikat. Semua orang, termasuk Anda sendiri dan (apalagi) pasangan, memiliki kekurangan. Ada kekurangan pasangan yang mungkin sudah Anda ketahui sejak masa pacaran dulu. Ada yang baru ketahuan setelah menikah. Tetapi, Raskin menambahkan bahwa jika Anda melalui masa pacaran sebelum menikah, sebagian besar kekurangan pasangan Anda mestinya sudah diketahui dengan baik. Lalu, mengapa tetap memutuskan menikah walau sudah mengetahui kekurangan pacarnya? "Karena sebagian besar orang berpikir bahwa setelah menikah nanti, ia akan dapat memperbaiki kekurangan pasangannya," kata Raskin.Nah, di sinilah sumber masalahnya. Begitu menyadari bahwa keyakinan dapat mengubah kekurangan pasangannya tersebut ternyata hanya harapan kosong, orang biasanya lalu berubah pikiran. Setelah bertahun-tahun menanti perubahan, Rima (teman saya tadi), akhirnya memutuskan diri tak tahan dengan perilaku suaminya.Mungkin Reza dan Hughes juga begitu. Yang tak diketahui banyak orang, mengubah watak, sifat, atau perangai orang adalah hal sulit kalau tak bisa dibilang hampir mustahil. "Masalah timbul karena akhirnya Anda kehilangan harapan dan kemudian menyerah. Pada saat itu, pikiran yang biasanya timbul adalah bagaimana menyudahi 'penderitaan' Anda secepat mungkin," kata Krasnow. Dan, jawabannya biasanya adalah perceraian.
Ikutilah Saran-Saran BerikutAda beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk "membutakan" diri dari segala kekurangan pasangan dan berbagai masalah yang mungkin timbul dalam pernikahan ini. Secara garis besar, inilah beberapa saran Krasnow yang dipaparkan dalam bukunya yang sudah disebut di atas:Benci adalah bagian dari kehidupan pernikahan. Cinta sekalipun bisa mengakibatkan pertengkaran di antara pasangan. Dan, dalam perjalanan kehidupan pernikahan, ada saat-saat di mana Anda bisa menjadi sangat membenci pasangan Anda. "Inilah kenyataannya, dan sejak awal pernikahan Anda sudah harus berharap suatu waktu perasaan benci tersebut akan timbul," kata Krasnow. Kesimpulannya, terimalah kenyataan bahwa kehidupan pernikahan bisa amat pahit dan menyakitkan. Jika Anda bisa menerimanya, Anda akan sanggup bertahan.Jangan berharap perkawinan akan bahagia selamanya. Pikiran bahwa pernikahan akan berlangsung bahagia selamanya seperti cerita dongeng adalah tiket menuju perceraian.
"Cinta pasti memudar. Apa yang tadinya Anda anggap istimewa dalam diri pasangan Anda akan berubah menjadi hal yang biasa-biasa saja. Apa yang tadinya membuat Anda berdebar akan menjadi kehilangan maknanya," papar Krasnow. Jika Anda mau menyadari hal tersebut, dan "menyerah" pada kenyataan yang ada, Anda akan lebih bisa menikmati pernikahan Anda, bagaimanapun kondisinya, seberat apa pun masalahnya.Tak ada pasangan yang sempurna. 1ni pesan bagi mereka yang mungkin berpikir kehidupan pernikahan mereka akan lebih baik jika mereka menikah dengan orang lain yang bukan pasangannya saat ini. Mereka yang bercerai karena ingin memilih pasangan lain yang lebih ideal biasanya menjadi amat frustrasi ketika masalah besar yang ia hadapi dulu ternyata muncul kembali. "Tak ada manusia yang sempurna, sehingga setiap orang pasti memiliki kontribusi dalam semua masalah yang timbul. Jadi, masalah yang sama bisa saja terulang lagi dan lagi, walaupun dengan pasangan yang berbeda, karena mungkin saja sumber masalahnya ada pada diri Anda sendiri," papar Krasnow lagi. Bagaimana caranya bertahan melewati segala persoalan dan rintangan dalam pernikahan?
Inilah resep yang disarankan KrasnowPerlakukan pasangan seperti Anda memperlakukan anak Anda. Ekspresi sayang dan cinta yang paling dalam biasanya adalah ekspresi sayang dan cinta dan sayang kepada anak-anak Anda. Perlakukanlah pasangan seperti memperlakukan anak Anda, dengan penuh kasih sayang, dan Anda akan mendapatkan perasaan cinta yang Anda butuhkan dari pasangan Anda.Dalam masa-masa yang amat sulit, Anda harus tetap mengingat janji yang Anda buat ketika menikah dulu. Bahwa Anda akan saling menjaga, saling menyayangi, saling berkorban, saling memberikan, dan saling menerima dalam pernikahan. Dan, jika Anda kekurangan motivasi, ingatlah prinsip Krasnow berikut ini untuk membantu:"Pernikahan memang bisa membuat Anda menderita.Tetapi, perceraian bukan pilihan terbaik karena tak ada seorang pun bisa memberikan Anda kebahagiaan terus menerus. Karena itu, Anda harus terus berusaha mencintai pasangan Anda yang tak sempurna itu, terutama sekali demi anak-anak".
Mau pernikahan awet, harmonis, dan berakhir ketika "maut memisahkan"? Kuncinya cuma satu: lupakan dan maafkan semua kekurangan pasangan.
Beberapa minggu terakhir ini berita selebriti yang sedang hangat dalam skala nasional adalah kasus perceraian pasangan Reza-Adjie dan HughesAvin. Untuk skala lokal, berita hangatnya adalah pasangan Rima-Oki. Anda mungkin sekali tak mengenal nama pasangan yang terakhir saya sebut, karena keduanya hanyalah teman dekat saya, bukan pasangan pesohor. Nama mereka (yang disamarkan untuk menghindari "amukan" mereka) saya sejajarkan dengan kedua pasangan selebriti beken bukan karena kesamaan kasusnya, tetapi karena saya lebih mengenal mereka dan masalah yang menyebabkan perceraian mereka secara langsung. Sedangkan penyebab perceraian Hughes-Avin dan AdjieReza hanya saya ketahui dari tayangan dan berita infotainment.
Oke, sekarang kita masuk ke inti masalahnya. Hughes dan Reza - konon - menuntut cerai karena tak tahan dengan perlakuan suaminya. Sementara Rima, saya tahu persis, minta cerai juga dengan alasan yang persis sama. Bedanya, saya bisa bertanya langsung kepadanya mengenai apa persisnya perlakuan suaminya yang membuat ia tak tahan. Jawabannya? "Banyak," katanya. Lalu, tumpahan kekesalannya kepada sang suami tumpah dari mulutnya bagai air bah. Bahkan selama saya mendengarkan keluh kesahnya, hal yang terpikir adalah: jika memang begitu banyak kekurangan Oki, kenapa mereka sampai bisa menikah, bertahan selama hampir tujuh tahun, "menghasilkan" dua orang putri yang cantik, lalu bubar. Alasannya, sekali lagi, karena pada akhirnya Rima, teman saya itu, sadar bahwa ia tak tahan menghadapi perlakuan Oki. Setelah tujuh tahun!
Pentingnya Memelihara Perkawinan Dengan berbagai dalih dan alasan, perceraian memang sudah menjadi hal yang jamak. Di Amerika, misalnya, dua dari tiga pernikahan berakhir dengan perceraian. Di Indonesia, angkanya memang "hanya" sekitar satu dari lima pernikahan yang berakhir dengan perceraian. Tetapi, kalau melihat kecenderungan angka perceraian yang meningkat drastis, masalah perceraian ini tak dapat dianggap sepele. Semakin lama, tampaknya orang makin mudah memutuskan untuk bercerai karena menganggap pernikahannya bermasalah. Padahal, perceraian itu sendiri sebenarnya juga menimbulkan masalah baru.
Gangguan psikologis anak-anak korban perceraian orangtua, misalnya, hanyalah satu dari sederet masalah sosial yang timbul akibat perceraian.Iris Krasnow, penulis buku Surrendering to Marriage adalah satu dari sedikit orang Amerika Serikat saat ini yang mengambil sikap menentang perceraian. Bukunya bahkan dianggap kontroversial oleh banyak orang sebangsanya, karena menggambarkan sikap yang amat bertentangan dengan "semangat" kebanyakan orang Amerika. Krasnow mengajak para rekannya untuk mempertahankan pernikahan. Secara ekstrem Krasnow mengajak para pasangan menikah untuk "menyerah" dalam ikatan perkawinan, apa pun dan sebesar apa pun masalah yang mereka hadapi.
"Perceraian bisa jadi sama buruknya dengan mempertahankan pernikahan yang bermasalah. Bahkan, bisa lebih buruk lagi," kata Krasnow. Mungkin, Anda yang sedang atau pernah menghadapi masalah sangat besar dalam pernikahan, tidak akan percaya kata-kata Krasnow. Tetapi, hal tersebut amat mungkin. Soalnya, menurut dia, setiap peroikahan pasti memiliki masalah. "Berapa kali pun Anda menikah, dengan siapa pun Anda menikah, pasti akan ada masalah yang menghadang," begitu katanya. Karena itu, lebih baik menghadapi masalah yang Anda miliki sekarang, daripada menghadapi masalah lain yang mungkin lebih besar dan tidak Anda ketahui bentuknya.
Menerima Pasangan Apa Adanya Inilah yang dimaksudkan dengan membutakan diri terhadap kekurangan pasangan. "Salah satu kunci sukses menjaga keawetan dan keharmonisan pernikahan adalah dengan 'membutakan' diri Anda terhadap berbagai kekurangan pasangan," kata Rhona Raskin, terapis keluarga dari Amerika Serikat. Semua orang, termasuk Anda sendiri dan (apalagi) pasangan, memiliki kekurangan. Ada kekurangan pasangan yang mungkin sudah Anda ketahui sejak masa pacaran dulu. Ada yang baru ketahuan setelah menikah. Tetapi, Raskin menambahkan bahwa jika Anda melalui masa pacaran sebelum menikah, sebagian besar kekurangan pasangan Anda mestinya sudah diketahui dengan baik. Lalu, mengapa tetap memutuskan menikah walau sudah mengetahui kekurangan pacarnya? "Karena sebagian besar orang berpikir bahwa setelah menikah nanti, ia akan dapat memperbaiki kekurangan pasangannya," kata Raskin.Nah, di sinilah sumber masalahnya. Begitu menyadari bahwa keyakinan dapat mengubah kekurangan pasangannya tersebut ternyata hanya harapan kosong, orang biasanya lalu berubah pikiran. Setelah bertahun-tahun menanti perubahan, Rima (teman saya tadi), akhirnya memutuskan diri tak tahan dengan perilaku suaminya.Mungkin Reza dan Hughes juga begitu. Yang tak diketahui banyak orang, mengubah watak, sifat, atau perangai orang adalah hal sulit kalau tak bisa dibilang hampir mustahil. "Masalah timbul karena akhirnya Anda kehilangan harapan dan kemudian menyerah. Pada saat itu, pikiran yang biasanya timbul adalah bagaimana menyudahi 'penderitaan' Anda secepat mungkin," kata Krasnow. Dan, jawabannya biasanya adalah perceraian.
Ikutilah Saran-Saran BerikutAda beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk "membutakan" diri dari segala kekurangan pasangan dan berbagai masalah yang mungkin timbul dalam pernikahan ini. Secara garis besar, inilah beberapa saran Krasnow yang dipaparkan dalam bukunya yang sudah disebut di atas:Benci adalah bagian dari kehidupan pernikahan. Cinta sekalipun bisa mengakibatkan pertengkaran di antara pasangan. Dan, dalam perjalanan kehidupan pernikahan, ada saat-saat di mana Anda bisa menjadi sangat membenci pasangan Anda. "Inilah kenyataannya, dan sejak awal pernikahan Anda sudah harus berharap suatu waktu perasaan benci tersebut akan timbul," kata Krasnow. Kesimpulannya, terimalah kenyataan bahwa kehidupan pernikahan bisa amat pahit dan menyakitkan. Jika Anda bisa menerimanya, Anda akan sanggup bertahan.Jangan berharap perkawinan akan bahagia selamanya. Pikiran bahwa pernikahan akan berlangsung bahagia selamanya seperti cerita dongeng adalah tiket menuju perceraian.
"Cinta pasti memudar. Apa yang tadinya Anda anggap istimewa dalam diri pasangan Anda akan berubah menjadi hal yang biasa-biasa saja. Apa yang tadinya membuat Anda berdebar akan menjadi kehilangan maknanya," papar Krasnow. Jika Anda mau menyadari hal tersebut, dan "menyerah" pada kenyataan yang ada, Anda akan lebih bisa menikmati pernikahan Anda, bagaimanapun kondisinya, seberat apa pun masalahnya.Tak ada pasangan yang sempurna. 1ni pesan bagi mereka yang mungkin berpikir kehidupan pernikahan mereka akan lebih baik jika mereka menikah dengan orang lain yang bukan pasangannya saat ini. Mereka yang bercerai karena ingin memilih pasangan lain yang lebih ideal biasanya menjadi amat frustrasi ketika masalah besar yang ia hadapi dulu ternyata muncul kembali. "Tak ada manusia yang sempurna, sehingga setiap orang pasti memiliki kontribusi dalam semua masalah yang timbul. Jadi, masalah yang sama bisa saja terulang lagi dan lagi, walaupun dengan pasangan yang berbeda, karena mungkin saja sumber masalahnya ada pada diri Anda sendiri," papar Krasnow lagi. Bagaimana caranya bertahan melewati segala persoalan dan rintangan dalam pernikahan?
Inilah resep yang disarankan KrasnowPerlakukan pasangan seperti Anda memperlakukan anak Anda. Ekspresi sayang dan cinta yang paling dalam biasanya adalah ekspresi sayang dan cinta dan sayang kepada anak-anak Anda. Perlakukanlah pasangan seperti memperlakukan anak Anda, dengan penuh kasih sayang, dan Anda akan mendapatkan perasaan cinta yang Anda butuhkan dari pasangan Anda.Dalam masa-masa yang amat sulit, Anda harus tetap mengingat janji yang Anda buat ketika menikah dulu. Bahwa Anda akan saling menjaga, saling menyayangi, saling berkorban, saling memberikan, dan saling menerima dalam pernikahan. Dan, jika Anda kekurangan motivasi, ingatlah prinsip Krasnow berikut ini untuk membantu:"Pernikahan memang bisa membuat Anda menderita.Tetapi, perceraian bukan pilihan terbaik karena tak ada seorang pun bisa memberikan Anda kebahagiaan terus menerus. Karena itu, Anda harus terus berusaha mencintai pasangan Anda yang tak sempurna itu, terutama sekali demi anak-anak".
Jati diri
Mengenal Diri Sendiri
Oleh K.H. ABDULLAH GYMNASTIAR
KEBENINGAN hati menciptakan kedamaian dan kebersamaan. Lalu, bagaimana kiat menuju kebeningan hati itu? Ikhtiar pembersihan hati harus dimulai dengan upaya memahami diri dan orang lain. Tanpa pemahaman dan pengenalan yang mendalam mustahil kita bisa terhindar dari kekotoran hati. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa sumber dari kiat mengelola kalbu (manajemen kalbu) adalah pengenalan diri.
Seseorang yang mampu mengendalikan perasaaan (emosinya) adalah orang yang bisa memahami siapa dirinya. Jadi, tentunya kita akan bisa mengendalikan diri begitu kita mengenalnya secara mendalam. Orang-orang yang terkadang tidak mampu mengendalikan dirinya, itu karena mereka merasa asing dengan dirinya sendiri. Lalu, bisa terjadi pada suatu masa mereka melakukan perbuatan maksiat dan keji, sementara mereka merasa melakukannya tanpa sadar.
Kunci pemahaman diri terletak pada hati. Hati bisa memperlihatkan secara jelas siapa diri kita dan bagaimana watak kita. Hati yang bersih, bening, dan jernih insya Allah bisa memperlihatkan kebersihan, kebeningan, dan kejernihan pada pribadi kita.
Untuk mengenal diri, kita tentu memulainya dari kedalaman diri kita sendiri -dari kedalaman kalbu atau apa yang disebut dengan nurani. Inilah yang sering dikenal dengan upaya introspeksi diri (muhasabah). Jadi, manusia mampu mengenal dirinya melalui satu proses pendalaman, bukan tiba-tiba saja bisa memahami dirinya. Proses introspeksi diri ini tentunya bisa berjalan efektif manakala kita mampu menata suasana hati, misalnya dalam keheningan dan dalam upaya keluar dari masalah-masalah yang membelit kita. Kita harus punya satu kepercayaan bahwa hanya kitalah yang bisa menolong diri kita sendiri.
1. Cermati potensi diri
Kita bisa mengenali potensi diri salah satunya melalui hubungan dengan orang lain. Hubungan dengan orang lain akan memungkinkan munculnya kritik. Untuk itu, kita pun mengembangkan sikap terbuka terhadap kritik yang datang dari luar diri kita. Artinya, kita juga harus berprasangka baik (husnudzan) tentang apa yang orang katakan terhadap diri kita, karena merekalah yang mungkin lebih objektif melihat potensi-potensi dalam diri kita.
Cara paling praktis dalam upaya pengenalan diri ini adalah melalui hubungan yang harmonis dengan lingkungan terdekat, yaitu keluarga. Keakraban kita terhadap seluruh anggota keluarga memungkinkan ketidaksungkanan terlontarnya kritik terhadap diri kita.
Setelah lewat lingkungan keluarga, mulailah kita juga berhubungan secara harmonis dengan saudara, teman, tetangga, atau orang di dalam lingkungan pekerjaan. Mungkin di sini akan terasa lebih berat, karena keterbukaan kita akan mengalirkan kritik yang lebih hebat lagi. Kita harus siap untuk menahan kedongkolan dan kejengkelan karena mungkin saja orang-orang secara terang-terangan mengkritik diri kita. Namun, yakinlah bahwa proses ini insya Allah akan lebih membuat perkembangan emosi kita semakin baik dari hari ke hari.
Kritik adalah senjata ampuh untuk mengenal lebih jauh kelemahan diri kita. Alergi terhadap kritik berarti akan membuat tumbuh suburnya potensi negatif pada diri kita. Memang tidaklah mudah bagi seseorang menerima kritik, apalagi yang benar-benar menyakitkan. Ada kecenderungan bahwa kita ingin membela diri. Namun, jika kita memelihara penyakit alergi terhadap kritik, bersiaplah kita semakin asing terhadap diri kita sendiri. Kita benar-benar tidak yakin bahwa diri kita ini sombong, takabur, pelit, menyebalkan, atau mau menang sendiri.
Nah, bagaimana kita bisa benar-benar memperbaiki diri jika kita buta terhadap ketidaksempurnaan diri ini? Bagaimana mau membangkitkan semangat untuk senantiasa memperbaiki diri jika kita tidak mampu atau mau merasakan kelemahan diri kita?
Upaya-upaya memperbaiki diri akan efektif, jika kita menggerakkan segenap potensi positif dalam diri kita. Tentu dengan syarat bahwa kita telah mengetahui adanya kelemahan-kelemahan pada diri kita. Potensi untuk memperbaiki diri hanya bisa digerakkan dengan niat yang tulus.
Allah Swt. telah menyediakan sarana-sarana berupa potensi perbaikan diri tersebut. Namun, sarana-sarana itu tidak dapat digunakan tanpa dibarengi niat (tekad) untuk mengubah diri. Niat yang tulus akan menuntun kita pada perjalanan ruhani menuju Allah Swt. Inilah perjalanan yang merupakan tahapan-tahapan menuju perbaikan kualitas diri dari hari ke hari dan masa ke masa.
Kebaikan dalam diri kita bisa dilihat secara kasat mata melalui jasad dan akal. Potensi jasad dan akal yang tampak lahiriah sebenarnya digerakkan oleh potensi hati atau kalbu. Jadi, kalbu yang bersih akan menampakkan fisik dan pikiran yang bersih pula. Jasad dan akal hanya akan menuju pada suatu kebaikan jika dikendalikan oleh kalbu yang bersih yang membuat perbuatan kita menjadi bernilai dan berkualitas.
2. Fokuskan pada diri sendiri
Kebaikan bisa dicontohkan atau ditularkan dari atau kepada orang lain. Namun, kebaikan akan menjadi efektif merasuk pada diri manakala berpangkal pada diri kita sendiri. Ungkapan yang cocok dengan ini bahwa sebaiknya kita mengurusi diri sendiri sebelum mencoba mengurusi orang lain.
Keinginan kuat atau kerinduan melihat sebuah kebaikan agar terjadi di lingkungan kita akan memotivasi diri untuk menebarkan kebaikan dari dalam diri kita. Kita tidak akan sungkan melakukan pembersihan jika melihat kekotoran di sekeliling. Kita dengan senang hati menciptakan suasana yang membuat orang lain berbahagia, apakah itu tersenyum, menolong, dan berupaya memberikan solusi. Pada akhirnya, akan terkondisikan keadaan yang dalam hal ini diri kita menjadi pusat kebaikan dan solusi bagi orang-orang di sekeliling kita.
3. Ubahlah persepsi
Persepsi adalah cara pandang kita terhadap potensi-potensi diri kita. Karena itu, jika kita mempersepsikan diri kita selalu gagal dan tidak bisa diperbaiki, sampai kapan pun kita tidak akan pernah sukses.
Dalam konsep manajemen kalbu pengubahan persepsi harus dimulai dengan mengukurnya pada kedalaman hati (nurani). Seseorang akan efektif mengubah persepsinya kalau ia menggunakan sarana kolbunya yang menuju kepada Allah Swt. akan berbicara bahwa pada dasarnya manusia memiliki sisi baik. Manusia bisa mengubah dirinya menuju kebaikan jika ia menghidupkan sisi baik dan mematikan sisi buruknya. Jadi, harus ada persepsi bahwa kita bisa menjadi lebih baik, kita bisa menjadi sukses, dan Allah Swt. senantiasa akan menolong hamba-Nya yang tulus bermunajat kepada-Nya. Persepsi inilah yang akan senantiasa menghidupkan motivasi dan keinginan kita menjadi manusia berprestasi. ***
Wednesday, January 2, 2008
Tak perlu dipertanyakan lagi.
Aku pasrah. Apapun yang akan terjadi, terjadilah.
Aku terlalu terbawa ke dalam masalah ini, sehingga, konsentrasiku pada pekerjaan jadi kacau.
Rasanya pasti lebih enak, ya... kalau aku bisa konsentrasi ke pekerjaanku.
Aku ingin jadi orang baik, khalifah Allah di dunia.
Aku akui, ada ketakutan dan kekhawatiran di hatiku.
Hmmh..., keputusan untuk menikah dengan dia, sudah terlambat untuk dipertanyakan lagi.
Sekarang bukan aku dan dia saja yang terlibat, tapi juga seluruh keluarga.
Siap? Apakah aku siap? Rasanya sudah telat untuk bertanya kan?
Aku terlalu terbawa ke dalam masalah ini, sehingga, konsentrasiku pada pekerjaan jadi kacau.
Rasanya pasti lebih enak, ya... kalau aku bisa konsentrasi ke pekerjaanku.
Aku ingin jadi orang baik, khalifah Allah di dunia.
Aku akui, ada ketakutan dan kekhawatiran di hatiku.
Hmmh..., keputusan untuk menikah dengan dia, sudah terlambat untuk dipertanyakan lagi.
Sekarang bukan aku dan dia saja yang terlibat, tapi juga seluruh keluarga.
Siap? Apakah aku siap? Rasanya sudah telat untuk bertanya kan?
My life
Ya Allah,
Erie tau, ini adalah sebuah keputusan 'GILA'. Untuk menikah dengan Mr. You Know Who!
Yup..bener, 31 Desember kemaren kita tunangan, aku dilamar, bla..bla..bla..
Oh...my life,
Kami sepakat untuk menikah bulan Juni...
Ya Allah,
bila memang ini jalan hidupku, hilangkanlah kekhawatiran itu dari dalam hatiku, hilangkanlah ketakutan itu dari dalam jiwaku, sehingga yang tertinggal hanyalah ucapan syukur kepada-Mu.
Biarkanlah virus 'Ikhlas' menyertai seluruh aliran darahku, sampai ke denyut nadiku, sampai ke sel atom tubuhku yang tak terlihat sekalipun.
Ya Allah,
Luruskanlah niatku, melakukan ini hanya untuk-Mu. Hanya untuk mendapatkan ridho-Mu, Ya Allah...Walaupun hidupku nanti mungkin agak susah, agak menderita, ingatkanlah lagi padaku bila lupa, bahwa ini adalah untuk mencapai ridho-Mu, Ya Allah... untuk mencapai sayangMu padaku.
Sehingga apapun yang aku lakukan adalah sebagai Ibadah dan amalan yang shaleh.
Amin..Amin..Ya Robbal Alamin..
Erie tau, ini adalah sebuah keputusan 'GILA'. Untuk menikah dengan Mr. You Know Who!
Yup..bener, 31 Desember kemaren kita tunangan, aku dilamar, bla..bla..bla..
Oh...my life,
Kami sepakat untuk menikah bulan Juni...
Ya Allah,
bila memang ini jalan hidupku, hilangkanlah kekhawatiran itu dari dalam hatiku, hilangkanlah ketakutan itu dari dalam jiwaku, sehingga yang tertinggal hanyalah ucapan syukur kepada-Mu.
Biarkanlah virus 'Ikhlas' menyertai seluruh aliran darahku, sampai ke denyut nadiku, sampai ke sel atom tubuhku yang tak terlihat sekalipun.
Ya Allah,
Luruskanlah niatku, melakukan ini hanya untuk-Mu. Hanya untuk mendapatkan ridho-Mu, Ya Allah...Walaupun hidupku nanti mungkin agak susah, agak menderita, ingatkanlah lagi padaku bila lupa, bahwa ini adalah untuk mencapai ridho-Mu, Ya Allah... untuk mencapai sayangMu padaku.
Sehingga apapun yang aku lakukan adalah sebagai Ibadah dan amalan yang shaleh.
Amin..Amin..Ya Robbal Alamin..
Subscribe to:
Posts (Atom)