Sunday, January 6, 2008

Nice topic, About Marriage

Cinta Itu (Perlu) Buta

Mau pernikahan awet, harmonis, dan berakhir ketika "maut memisahkan"? Kuncinya cuma satu: lupakan dan maafkan semua kekurangan pasangan.

Beberapa minggu terakhir ini berita selebriti yang sedang hangat dalam skala nasional adalah kasus perceraian pasangan Reza-Adjie dan HughesAvin. Untuk skala lokal, berita hangatnya adalah pasangan Rima-Oki. Anda mungkin sekali tak mengenal nama pasangan yang terakhir saya sebut, karena keduanya hanyalah teman dekat saya, bukan pasangan pesohor. Nama mereka (yang disamarkan untuk menghindari "amukan" mereka) saya sejajarkan dengan kedua pasangan selebriti beken bukan karena kesamaan kasusnya, tetapi karena saya lebih mengenal mereka dan masalah yang menyebabkan perceraian mereka secara langsung. Sedangkan penyebab perceraian Hughes-Avin dan AdjieReza hanya saya ketahui dari tayangan dan berita infotainment.

Oke, sekarang kita masuk ke inti masalahnya. Hughes dan Reza - konon - menuntut cerai karena tak tahan dengan perlakuan suaminya. Sementara Rima, saya tahu persis, minta cerai juga dengan alasan yang persis sama. Bedanya, saya bisa bertanya langsung kepadanya mengenai apa persisnya perlakuan suaminya yang membuat ia tak tahan. Jawabannya? "Banyak," katanya. Lalu, tumpahan kekesalannya kepada sang suami tumpah dari mulutnya bagai air bah. Bahkan selama saya mendengarkan keluh kesahnya, hal yang terpikir adalah: jika memang begitu banyak kekurangan Oki, kenapa mereka sampai bisa menikah, bertahan selama hampir tujuh tahun, "menghasilkan" dua orang putri yang cantik, lalu bubar. Alasannya, sekali lagi, karena pada akhirnya Rima, teman saya itu, sadar bahwa ia tak tahan menghadapi perlakuan Oki. Setelah tujuh tahun!

Pentingnya Memelihara Perkawinan Dengan berbagai dalih dan alasan, perceraian memang sudah menjadi hal yang jamak. Di Amerika, misalnya, dua dari tiga pernikahan berakhir dengan perceraian. Di Indonesia, angkanya memang "hanya" sekitar satu dari lima pernikahan yang berakhir dengan perceraian. Tetapi, kalau melihat kecenderungan angka perceraian yang meningkat drastis, masalah perceraian ini tak dapat dianggap sepele. Semakin lama, tampaknya orang makin mudah memutuskan untuk bercerai karena menganggap pernikahannya bermasalah. Padahal, perceraian itu sendiri sebenarnya juga menimbulkan masalah baru.

Gangguan psikologis anak-anak korban perceraian orangtua, misalnya, hanyalah satu dari sederet masalah sosial yang timbul akibat perceraian.Iris Krasnow, penulis buku Surrendering to Marriage adalah satu dari sedikit orang Amerika Serikat saat ini yang mengambil sikap menentang perceraian. Bukunya bahkan dianggap kontroversial oleh banyak orang sebangsanya, karena menggambarkan sikap yang amat bertentangan dengan "semangat" kebanyakan orang Amerika. Krasnow mengajak para rekannya untuk mempertahankan pernikahan. Secara ekstrem Krasnow mengajak para pasangan menikah untuk "menyerah" dalam ikatan perkawinan, apa pun dan sebesar apa pun masalah yang mereka hadapi.

"Perceraian bisa jadi sama buruknya dengan mempertahankan pernikahan yang bermasalah. Bahkan, bisa lebih buruk lagi," kata Krasnow. Mungkin, Anda yang sedang atau pernah menghadapi masalah sangat besar dalam pernikahan, tidak akan percaya kata-kata Krasnow. Tetapi, hal tersebut amat mungkin. Soalnya, menurut dia, setiap peroikahan pasti memiliki masalah. "Berapa kali pun Anda menikah, dengan siapa pun Anda menikah, pasti akan ada masalah yang menghadang," begitu katanya. Karena itu, lebih baik menghadapi masalah yang Anda miliki sekarang, daripada menghadapi masalah lain yang mungkin lebih besar dan tidak Anda ketahui bentuknya.

Menerima Pasangan Apa Adanya Inilah yang dimaksudkan dengan membutakan diri terhadap kekurangan pasangan. "Salah satu kunci sukses menjaga keawetan dan keharmonisan pernikahan adalah dengan 'membutakan' diri Anda terhadap berbagai kekurangan pasangan," kata Rhona Raskin, terapis keluarga dari Amerika Serikat. Semua orang, termasuk Anda sendiri dan (apalagi) pasangan, memiliki kekurangan. Ada kekurangan pasangan yang mungkin sudah Anda ketahui sejak masa pacaran dulu. Ada yang baru ketahuan setelah menikah. Tetapi, Raskin menambahkan bahwa jika Anda melalui masa pacaran sebelum menikah, sebagian besar kekurangan pasangan Anda mestinya sudah diketahui dengan baik. Lalu, mengapa tetap memutuskan menikah walau sudah mengetahui kekurangan pacarnya? "Karena sebagian besar orang berpikir bahwa setelah menikah nanti, ia akan dapat memperbaiki kekurangan pasangannya," kata Raskin.Nah, di sinilah sumber masalahnya. Begitu menyadari bahwa keyakinan dapat mengubah kekurangan pasangannya tersebut ternyata hanya harapan kosong, orang biasanya lalu berubah pikiran. Setelah bertahun-tahun menanti perubahan, Rima (teman saya tadi), akhirnya memutuskan diri tak tahan dengan perilaku suaminya.Mungkin Reza dan Hughes juga begitu. Yang tak diketahui banyak orang, mengubah watak, sifat, atau perangai orang adalah hal sulit kalau tak bisa dibilang hampir mustahil. "Masalah timbul karena akhirnya Anda kehilangan harapan dan kemudian menyerah. Pada saat itu, pikiran yang biasanya timbul adalah bagaimana menyudahi 'penderitaan' Anda secepat mungkin," kata Krasnow. Dan, jawabannya biasanya adalah perceraian.

Ikutilah Saran-Saran BerikutAda beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk "membutakan" diri dari segala kekurangan pasangan dan berbagai masalah yang mungkin timbul dalam pernikahan ini. Secara garis besar, inilah beberapa saran Krasnow yang dipaparkan dalam bukunya yang sudah disebut di atas:Benci adalah bagian dari kehidupan pernikahan. Cinta sekalipun bisa mengakibatkan pertengkaran di antara pasangan. Dan, dalam perjalanan kehidupan pernikahan, ada saat-saat di mana Anda bisa menjadi sangat membenci pasangan Anda. "Inilah kenyataannya, dan sejak awal pernikahan Anda sudah harus berharap suatu waktu perasaan benci tersebut akan timbul," kata Krasnow. Kesimpulannya, terimalah kenyataan bahwa kehidupan pernikahan bisa amat pahit dan menyakitkan. Jika Anda bisa menerimanya, Anda akan sanggup bertahan.Jangan berharap perkawinan akan bahagia selamanya. Pikiran bahwa pernikahan akan berlangsung bahagia selamanya seperti cerita dongeng adalah tiket menuju perceraian.

"Cinta pasti memudar. Apa yang tadinya Anda anggap istimewa dalam diri pasangan Anda akan berubah menjadi hal yang biasa-biasa saja. Apa yang tadinya membuat Anda berdebar akan menjadi kehilangan maknanya," papar Krasnow. Jika Anda mau menyadari hal tersebut, dan "menyerah" pada kenyataan yang ada, Anda akan lebih bisa menikmati pernikahan Anda, bagaimanapun kondisinya, seberat apa pun masalahnya.Tak ada pasangan yang sempurna. 1ni pesan bagi mereka yang mungkin berpikir kehidupan pernikahan mereka akan lebih baik jika mereka menikah dengan orang lain yang bukan pasangannya saat ini. Mereka yang bercerai karena ingin memilih pasangan lain yang lebih ideal biasanya menjadi amat frustrasi ketika masalah besar yang ia hadapi dulu ternyata muncul kembali. "Tak ada manusia yang sempurna, sehingga setiap orang pasti memiliki kontribusi dalam semua masalah yang timbul. Jadi, masalah yang sama bisa saja terulang lagi dan lagi, walaupun dengan pasangan yang berbeda, karena mungkin saja sumber masalahnya ada pada diri Anda sendiri," papar Krasnow lagi. Bagaimana caranya bertahan melewati segala persoalan dan rintangan dalam pernikahan?

Inilah resep yang disarankan KrasnowPerlakukan pasangan seperti Anda memperlakukan anak Anda. Ekspresi sayang dan cinta yang paling dalam biasanya adalah ekspresi sayang dan cinta dan sayang kepada anak-anak Anda. Perlakukanlah pasangan seperti memperlakukan anak Anda, dengan penuh kasih sayang, dan Anda akan mendapatkan perasaan cinta yang Anda butuhkan dari pasangan Anda.Dalam masa-masa yang amat sulit, Anda harus tetap mengingat janji yang Anda buat ketika menikah dulu. Bahwa Anda akan saling menjaga, saling menyayangi, saling berkorban, saling memberikan, dan saling menerima dalam pernikahan. Dan, jika Anda kekurangan motivasi, ingatlah prinsip Krasnow berikut ini untuk membantu:"Pernikahan memang bisa membuat Anda menderita.Tetapi, perceraian bukan pilihan terbaik karena tak ada seorang pun bisa memberikan Anda kebahagiaan terus menerus. Karena itu, Anda harus terus berusaha mencintai pasangan Anda yang tak sempurna itu, terutama sekali demi anak-anak".

2 comments:

cherr said...

menarik... kaya'nya udah siap nich.. ;)) menurut aku, saat kita merasa "jenuh" dengan pasangan kita, maka ingatlah hal2 positif yg ada pada dirinya atau hal2 positif yg telah dilalui bersamanya... Jadi mungkin cinta itu bukan (perlu) buta, melainkan harus lebih membuka matanya.. karena cinta itu tidak hanya suka, melainkan juga duka.. tidak hanya tawa melainkan juga tangis... tidak hanya manis melainkan juga pahit... karena itulah sebenarnya "hakikat cinta" :)

HitmanSystem.com said...

Bicara soal revolusi cinta, saya baru saja menulis sebuah e-book terbaru yang akan merevolusi paradigma tentang dinamika sosial pria-wanita Indonesia dalam dunia romansa dan percintaan, berjudul The Secret Law of Attraction (bukan sampah new age seperti yang beredar selama ini), sekaligus kunci otomatis untuk menarik popularitas dan trafik blog Anda.

Download rahasia besar tersebut dalam e-book yang terdapat di http://www.hitmansystem.com/blog/the-secret-law-of-attraction-113.htm