Tuesday, January 22, 2008

Rasa berharga yang diperoleh dari pemahaman pribadi sebagai makhluk yang berharga dan berarti.

Poin yang satu ini bukanlah poin kesalahan. Malah sebenarnya, rasa berharga harus lahir dari pemahaman diri sendiri bahwa sebagai manusia, kita adalah pribadi yang berharga dan berarti.

Enam point diatas berisi cara membangun harga diri melalui hal-hal diluar dirinya atau bergantung pada sesuatu yang tidak stabil. Seringkali ke 6 point diatas telah menjadi paradigma manusia didalam membangun rasa berharga. Oleh karena itu paradigma yang salah itu harus dibuang dan diganti dengan yang baru.

Karena, rasa berharga seperti itu mudah sekali untuk ‘luntur' dan terlalu berbahaya bila diikuti. Kita harus menanamkan di pikiran kita bahwa sebagai manusia, saya adalah pribadi yang berharga yang Tuhan sudah ciptakan. Rasa berharga harus lahir dari kesadaran diri sendiri bahwa kita memang berharga dan berarti. Kita harus bangga dengan diri kita sendiri, karena tidak ada manusia yang sama persis seperti diri kita. Artinya setiap manusia adalah pribadi yang unik dan tidak ada dua-nya di dunia. Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan.

Bila kita hanya berfokus pada kekurangan, maka kita akan menjadi orang yang rendah diri atau memiliki kepercayaan diri yang rendah (lower confident). Sebaliknya, bila kita berfokus hanya pada kelebihan kita, maka kita akan menjadi orang yang terlalu percaya diri (over confident) atau menjadi tidak tahu diri.

Orang yang percaya diri adalah orang yang tahu kelebihan dan kekurangannya. Ia sadar bahwa semua orang berharga, orang yang pandai memiliki kelemahan dan orang yang bodoh memiliki kelebihan. Ketika, anda mampu menghargai orang lain maupun diri sendiri, maka anda akan memiliki harga diri yang sejati. Dengan demikian, anda menghargai Tuhan yang sudah menciptakan manusia dengan segala keadaannya dan keunikannya.

JADI APA YANG HARUS DILAKUKAN UNTUK MEMILIKI PERCAYA DIRI YANG SEJATI?


Pertama, buanglah pikiran yang mengatakan bahwa anda tidak berharga.

Contoh sederhana; semirip apapun wajah manusia tetapi tetap sidik jarinya berbeda, sekalipun dia kembar cermin, seperti pinang dibelah dua. Kalau mau diilustrasikan, maka manusia itu seperti potongan puzzle. Sebagus apapun gambar kumpulan puzzle itu tidak akan pernah lengkap, bila ada satu potongan puzzle yang hilang. Gambar itupun akan menjadi tidak sempurna dan kurang indah bila dipandang. Orang akan selalu tanya, dimana potongan puzzle yang tidak ada itu? Seperti itulah arti setiap pribadi manusia; saling membutuhkan dan saling ketergantungan satu sama lain, seperti puzzle.

Hal ini tidak bisa dipungkiri, secara Psikologi, dijelaskan manusia adalah mahkluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri dan membutuhkan sesamanya. Dengan demikian setiap manusia apapun keadaan dan keberadaannya, dibutuhkan dan membutuhkan sesamanya. Jika, demikian apakah anda masih berpikir diri anda tidak berharga?


Kedua, kalau anda bisa menghargai diri sendiri itu artinya anda bisa menghargai ‘Pribadi ‘yang menciptakan anda.

Percayalah bahwa anda berharga dan berarti sehingga anda bisa tampil penuh percaya diri. Sekalipun anda gendut, pendek, jelek, hitam, cacat, miskin, bodoh, dsb, ingatlah anda adalah pribadi yang berharga yang Tuhan sudah ciptakan. Kalau anda melihat suatu lukisan dan mengatakan, " lukisan ini bagus ya..." itu berarti anda sedang memuji pelukisnya. Sebab, ia yang membuat lukisan itu, bukan? Jadi, kalau anda berkata bahwa diri anda jelek, sesungguhnya, siapa yg anda hina? Tuhan Yang Maha Kuasa. Sebaliknya, bila anda berkata bahwa diri anda bagus, artinya anda sedang memuji Tuhan yang menciptakan anda.

Dalam hal ini saya bukan ingin memaksa anda atau memanipulasi diri anda. Kalau jelek memang tidak bisa kita bilang bagus. Tetapi, kalau anda setuju bahwa yang di sebut Tuhan itu adalah oknum yang Mahabaik dan Mahakuasa. Apakah kalau ia menjadikan kita jelek atau ‘kurang' itu berarti Tuhan itu tidak baik? Atau Kurang baik? Atau jahat? Bukankah seharusnya kita berpikir, apa rencana Tuhan melalui ‘kekuranganku' ini? bukankah Tuhan itu Maha kuasa, jadi sekalipun kita ‘kurang', Tuhan tidak akan lupa memberikan ‘kelebihan' pada kita. Bukankah Tuhan bisa merubahnya atau mengisi ‘kekurangan' itu.

Terpenting adalah bagaimana anda bisa menerima kondisi ataupun keadaan anda tersebut. Kemudian, tidak terfokus hanya pada ‘kekurangan' anda saja. Tetapi, memandang diri anda secara komperhensif dan memiliki paradigma bahwa Tuhan itu Mahakuasa, Ia tahu yang terbaik untuk diriku.

Ingatlah, anda juga mempunyai ‘kelebihan' yang Tuhan berikan selain ‘kekurangan' didalam diri anda.


Ketiga, anda harus juga menghargai orang lain, karena orang lain sama berharganya seperti anda.

Seperti, bila kita selalu mampu untuk menghargai orang lain, maka orang lainpun pasti akan menghargai kita. Ini sudah menjadi hukum tak tertulis yang bersifat universal. Artinya dimana saja, apakah itu di benua Eropa, di Amerika, di Asia, di Australia, di Afrika, bahkan di Antartika sekalipun (kalau ada komunitas manusia) hal ini dapat berlaku. Bukan itu saja, agama apa saja, apakah agama Kristen, Islam, Hindu, Budha, bahkan orang yang tidak beragama sekalipun, jika mempraktekannya pasti akan berhasil. Artinya, bila anda mampu melihat orang lain sama berharganya dengan anda melihat diri sendiri.

Maka, anda akan mendapat harga yang sama seperti yang anda berikan pada orang tersebut. Dengan demikian, anda sudah memiliki tambahan rasa berharga sekalipun anda tidak bergantung pada penghargaan orang lain. Hasilnya anda akan ‘tampil' dengan penuh percaya diri karena anda dihargai bukan hanya oleh diri anda sendiri tetapi juga oleh orang lain.


Keempat, jangan berfokus pada kelemahan atau kekurangan (merasa tidak berharga). Ubahlah kelemahan itu menjadi kekuatan anda untuk sukses.

Ingatlah, apapun keadaan kita dan keberadaan kita; mungkin secara phisik kita jelek bahkan cacat. Ini tidak berarti bahwa kita adalah manusia tidak berguna sehingga tidak berharga sama sekali. Saya beri contoh; Bethoven dia adalah seorang komposer ternama pada zamannya yang sampai saat ini karya-karyanya (musik klasik) masih digemari oleh banyak orang didunia. Tetapi tahukan anda, bahwa Bethoven yang hebat itu adalah seorang yang tuli.

Secara logika, untuk belajar musik atau menciptakan karya musik dibutuhkan panca indra pendengaran. Bethoven tidak memiliki itu, ia tuli, ia cacat, tetapi apakah ia tidak berharga, apakah ia tidak berguna? Bethoven telah berhasil mengalahkan kelemahannya dan mengubah kelemahan tersebut menjadi kekuatannya. Bila Bethoven bisa maka andapun pasti bisa.

Jadi mulailah, mengubah kekurangan atau kelemahan anda agar menjadi kekuatan anda untuk sukses. Majulah dengan kepercayaan diri penuh karena anda sungguh-sungguh berharga.

1 comments:

cherr said...

Dengan kata lain, kita harus selalu berusaha "mensyukuri" segala bentuk apapun yang kita miliki, karena hakikatnya segala sesuatu yang kita milki/dapatkan itu adalah hal yang positif tergantung dari sudut pandang mana kita memandangnya... right??! :)